"Sesungguhnya agama itu mudah (ringan), siapa yang memperberat dirinya dalam beragama, maka dia tidak akan bisa melaksanakannya, karena itu amalkanlah agama sesuai tuntunannya, berusahalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, bergembiralah dengan pahala yang akan kau terima dan kerjakanlah shalat pada pagi hari, siang, dan penghujung malam"

Sunday, October 19, 2008

Lewat Tengah Malam ( 00:01 )

0 comments


Yah sekilas dari temanya menyeramkan seperti judul salah satu film horor indonesia ( :-D ) minggu ini aku kebagian jadwal malam shift 1 (00:00 - 08:00), baru aja duduk di depan meja komputer tuwew tiba-tiba salah satu Network di ruangan NOC ada yang mati!!...auuh liat di monitor monitoring merah semua, wah ke nya harus stand by di depan komputer sambil jagain telepon. dan salah satu temenen ku ngechek di ruang NOC tp udah 15 menit blom ketauan masalahnya apa "hah" akhirnya telepon berdering""pusiiiiiiiiing""pasti komplen dari parapelanggan hiks :-(

"Aku ; "selamat malam jalawave bisa di bantu"
"Pelanggan ; lagi ada gangguan ya mas?@#!%
"Aku ; "iya bapak kita sedang ada gangguan di NOC kita untuk link iix nya
jadi untuk sementara access lokal dan game nya terganggu
Mohon di tunggu ya pak nanti kalau sudah selesai kita konfirmasi ke bapak
"pelanggan ; oh gitu ya mas oke makasih atas info nya, di tunggu konfirmasi secepanya ya
mas

"Aku ; "Baik terimakasih pak selamat malam :-)

hadoh.....udah 30 mnt masih gk ketauan juga masalahnya telepon makin sering aja berdering hiks...mana udah ngantuk lagi, akhirnya ane ikut masuk ke ruang NOC "gimana cuy udah ketauan blom?.. tanya ku. routerboard nya bermasalah!! wedew gawat cuy udah setengah jam lebih mati nih, eh ternyata setelah di trace port switch yg ke routerbord nya error pas aku gantiin ke port yg di sebelah nya alhamdulillah akhirnya jalan lagi deh amin amin amin.:-D bisa bobok deh malem ini ckikikikik.......
sebelum bobok aku konfirmasi dulu ke pelanggan kalau link jalur iix nya udah bisa di access lagi. akhirnya ketenangan menyapa dalam malam ku :-D.
oh iya kenapa aku kasih tema "Lewat Tengah Malam" kebetulan kejadian nya pas jam 12 mlm (biar rada2 gimana gitu hehe) soalnya kalo ada komplen masalah ke gini pasti aja pelanggan yg telepon galak2 hii...kan serem mana pake marah lagi :-D hah.. yo wes lah ngak peting sekedar curhat aja abis lagi males ngapa2in sih, oke met bobok semuanya bye...

www.


meninggalkanmu.........

0 comments
maafkan bila aku
membuatmu terluka
maafkan bila aku
membuatmu menangis


kusadari, kusesali, meski semua
takkan membuat kembali tersenyum

maafkan bila aku
mendustai cintamu
maafkan bila aku
tak seperti yg kau fikirkan

kusadari, kusesali,.....

aku mohon jangan terus begini
hapus air matamu
dan lupakan diriku

aku pinta jangan pernah sesali
semua ini salahku
dan biarkan aku pergi
meninggalkanmu.........


Masih seperti dulu

0 comments


Masih saja ada bayanganmu
menemani di kesunyian hati
akankah aku mampu untuk
melupakan semua tentangmu

masih saja seperti dulu
merindukan dirimu sayang
mungkinkah aku bisa untuk
melupakan semua

aku masih tak bisa untuk
melukapan tentang mu
aku ingin kau slalu ada
di setiap hela nafas ku

dan aku masih tak bisa untuk
melupakan semua...


Friday, October 10, 2008

Milad ke 23(10/10/2008 )

0 comments


Bissmillahirohmanirohim.....Alhamdulillah kupanjatkan syukur atas segala limpahan rahmad,nikmad dan karunianya.

Begitu banyak liku hidup yang telah ku lalui mewarnai kehidupan ini sribu arah telahku tempuh, sgala cobaan tlah ku jalani penuh duka dan air mata hingga kini kuraih semua harapanku selama ini, trimakasih ku ucapkan padaMU atas semua yang tlah kau berikan padaku,
Ya Alloh...hari ini umurku bertambah satu tapi disisilain usiaku semakin berkurang, semoga disisa perjalan ini kau berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan-kesalahan yang pernah kuperbuat dan kau jadikan aku hambamu yang slalu dekat denganMu.
sungguh aku Rindu akan Cintamu YaAlloh

Wednesday, September 17, 2008

Tak bisa Kelain Hati Bag 1

0 comments


“Suatu saat, jika ada yang berniat menikahiku, aku ingin itu karena dia melihat sesuatu yang istimewa dalam diriku. Bukan seorang yang hanya berniat menikah, dan menyerahkan kepada guru ngajinya dijodohkan dengan siapapun. Apakah aku salah?”

April 2001, saat bulan bersinar lebih dari separuh.

’Apakah ikhlas selalu bermakna menafikan pertimbangan-pertimbangan manusiawi?’ Pertanyaan itu tak bisa lekang dari benakku. Sejak peritiwa ta’aruf dua hari yang lalu. Saat itu, mbak Lia, guru ngajiku berpesan, ‘Dhin, kalau sudah seaqidah dan sefikrah, yang lainnya tinggal mengikuti. Apalagi, sekarang akhwat lebih banyak daripada ikhwan. Jangan sampai kamu menolak rizqi. Dia ikhwan lho!’

Mengingat itu semua, aku kembali menghela nafas. ‘Apakah ikhlas selalu bermakna menafikan pertimbangan manusiawi?’ Pertanyaan itu kembali bersemayam di kepalaku. Berputar, melibas, mengurangi, tanpa menemukan jawaban. Hingga akhirnya, pertanyaan itulah yang ingin aku mintakan jawaban pada Yanti, teman sekamarku. Keheningan malam dan kebekuannya yang memenjarakan dinding kamar sempit kami menjadi saksi.

“Secara umum, aku kira jawabanya adalah YA,” jawab Yanti. “Karena Ikhlas bisa bermakna menerima apa yang diberikan Allah dengan lapang dada.”
“Tapi itu tak berarti guru ngaji berhak menodong khan?….”
“Tentu saja tidak. Anti berhak menyampaikan harapan-harapan, keinginan dan sebagainya”.
“Apakah jika dia berpredikat ‘ikhwan’ dan ngaji, semuanya sudah cukup! Di mana diletakkan kecocockan visi, pemikiran, orientasi, dan karakter? Sekarang ini jumlah ikhwan akhwat melimpah. Lantas atas dasar apa, seorang ikhwan dijodohkan dengan seorang akhwat?”, desaku.
“Bukankah anti bisa bertanya, minta informasi yang lebih lengkap?” Yanti menyarankan dengan sabar.
“Sudah…!” Lantas aku serasa mendapat tempat utuk mengurangi beban yang beberapa hari ini kusandang.

Sepekan yang lalu mendadak Mbak Lia memberikan biodata seorang ikhwan. usiaku memang sudah sangat cukup untuk menikah. Dua puluh lima tahun. Aku terkejut ketika itu, tapi aku hanya sanggup untuk mengiakan. Tiga hari kemudian aku dihadapkan dengan ‘laki-laki tak di kenal’ dalam biodata itu di rumah mbak Lia, aku sangat berharap laki-laki itu seperti yang kuimpikan. Seperti…., Ah! Sudahlah, ternyata aku harus kecewa.

“Suatu saat, jika ada yang berniat menikahiku, aku ingin itu karena dia melihat sesuatu yang istimewa dalam diriku. Bukan seorang yang hanya berniat menikah, dan menyerahkan kepada guru ngajinya dijodohkan dengan siapapun. Apakah aku salah?”

“Tidak. Hak kamu untuk punya keinginan seperti itu. Betapapun, kamu yang akan menjalani. Maka keputusan itu harus keputusanmu, bukan keputusan guru ngaji.”

“Aku ingin dia bisa menerimaku dengan segala kondisiku, bahkan mendukung cita-citaku. Bahwa aku bukan tipe orang yang bisa diam di rumah. Bahwa aku ingin kuliah lagi, aku ingin mengajar, aku ingin aktif bergabung dengan lembaga-lembaga sosial.”

Aku menerawang keluar jendela kamar yang terbuka. Beberapa kerlip bintang tertangkah oleh mataku. “Tapi dia ingin aku di rumah saja. Dia ingin aku tidak bekerja di luar jika sudah punya anak”.
“Kalau begitu, kamu tolak saja.”
“Aku tak berani!”

Yanti menatapku lama. “Tampaknya, ada permasalah lain yang jadi ganjalanmu, Dhin! Bukan bagaimana dia. Istikharahlah Ukhti agar Allah saja yang menunjukkan jalan itu untukmu, “Yanti menepuk pundakku dan meninggalkanku yang masih menatapi langit. Bulan di langit mulai tertutup awan.

’Permasalahan lain!’. Ya, Permasalahan lain. Barangkali memang benar inilah masalahku yang sebenarnya. Kata-kata Yanti itu kurasakan dalam membekas. Kata-kata itu pula yang menghadirkan nama pada galau hati yang selama ini tak kumengerti apa. Galau yang telah delapan bulan ini mengisi jiwa dan menenggelamkanku pada rasa gelisah, cemas, harapan serta penantian. Juga pada mimpi. Mimpiku tentang seorang lelaki shalih, yang pernah melamarku delapan bulan yang lalu. Mas Rijal. Lelaki shalih kakak kelasku di SMA dulu, di Solo, kota kelahiranku. Laki-laki yang aku tahu pasti akan mendukung cita-cintaku. Laki-laki idaman. Cerdas, alim dan bersahaja.

Namun sayang, proses kami tidak berjalan lancar, karena aku masih kuliah Ekstensi di Jakarta. Masih dua tahun lagi, dan aku tak bisa menginggalkannya karena orangtuaku keras tidak mengijinkanku. Sementara, Mas Rijal juga tak bisa pindah ke Jakarta, karena beliau memegang posisi kunci di usaha media yang baru dirintisnya.

Aku tahu itu dan sangat sadar. Aku rela serela-relanya kalau mas Rijal mundur atas alasan ini. Bahkan dulu, delapan bulan yang lalu itu, aku yang mengajurkan beliau untuk mencari muslimah lain saja. Namun, jawaban Mas Rijal sangat di luar dugaanku ‘Let it be my problem! Not Yours’. Jawaban yang mengantung. Akhirnya aku memilih untuk menunggu saja.

Sementara itu, mbak Lia, yang sudah keuanggap pengganti orangtuaku di Jakarta menganggap semuanya sudah berakhir, karena Mas Rijal tak pernah berkabar lagi tentang lamarannya.

Namun tidak demikian bagiku. Masih sangat nyata dalam benakku, masih kusimpan dengan rapi surat berisi kalimat terakhir Mas Rijal, ‘Let it be my problem. Not Yours’

Meskipun beliau sangat jarang dan hampir tidak pernah menghubungiku, tapi kenyataan bahwa beliau sampai saat ini belum menikah makin memperkuat harapanku.

***

Masih April, bulan tak lagi bulat penuh.

Dua hari lagi aku harus memberikan jawaban. Dan aku masih juga diliputi keraguan. bayang-bayang Mas Rijal bukannya makin tipis, tapi malah makin lekat di benakku. Hari ini, sudah berulangkali aku meraih gagang telpon dan memencet nomor HP mas Rijal. Aku ingin bertanya tentang komitmennya. Tapi selalu saja pada angka terakhir gagang telpon itu aku letakkan kembali. Aku tak sanggup. Aku malu. Jiwa perempuanku, jiwa putri Soloku menahan hasratku itu. ‘Perempuan tak layak untuk memulai, dia semestinya menunggu’, begitu pelajaran dari nenekku. tapi aku harus bagaimana? Aku masih berharap-harap cemas. Aku bingung statusku dalam lamaran atau tidak. Istikharahku tak menghasilkan apa-apa. Bahkan resah di jiwa itu kian mendera.

***

Awal Mei 2001

Hari ini adalah hari terakhir harus memberi keputusan. Dan aku masih juga tenggelam dalam balauku. Duhai Rabbi, kenapa aku jadi lembek begini?

“Saya tak bisa menerimanya Mbak, sya belum siap” Jawaban itulah yang akhirnya ku berikan. Nampak benar wajah Mbak Lia menyemburatkan kekecewaan. Tapi ada dayaku? Aku tak sanggup mendua jiwa. Bagiamana munkin aku bisa mengiyakan, sementara hatikumasih terpaut pada seseorang lain yang masih saja ‘nakal’ bermain-main dalam ruang hatiku. Aku bisa membayangkan, tentu ini akan sangat menyakiti hai ikhwan pilihan Mbak Lia itu. Mana ada laki-laki yang rela istrinya mendua hati? aku tak tega melukainya. Aku… aku lebih memilih menunggu mas Rijal. Ya! Menunggu mungkin lebih baik. Harapanku, suatu saat nanti, ketika takdir telah menyatakan bahwa mas Rijal memang bukan jodohku. Atau ketika aku telah sanggup melupakan Mas Rijal. Ini yang berat !.. (Cerita Oleh : Himmah ‘Aliyah )

Bersambung ……


 

Ka'bah Night | powered by Blogger | created from Minima retouched by ics - id